Translate

Wednesday, January 30, 2013

Negara yang Gagal Me-Redenominasi Mata Uang-nya


Pada postingan sebelumnya,saya mencoba menjabarkan negara-negara yang sukses dalam kebijakan redenominasi mata uangnya. Kali ini, untuk melengkapi khasanah kita, ada baiknya juga kita berkaca pada negara-negara yang gagal. Semoga bisa diambil manfaatnya.

Negara yang Gagal Me-Redenominasi Mata Uang-nya

1.      Rusia
Rusia sudah melakukan 3 kali redenominasi, yaitu tahun 1947, 1961 dan 1998.  Tahun 1998 inflasi Rusia mencapai 28%, akhirnya pemerintah kembali menetapkan kebijakan redenominasi Rubel dengan menghilangkan 3 digit nol. Sayang redenominasi Rubel tahun 1998 tidak berhasil. Masyarakat Rusia mengangap kebijakan tersebut sebagai  sebagai instrumen bagi pemerintah merampok kekayaan rakyat. Hal ini dikarenakan bank sentral gagal meyakinkan publik bahwa redenominasi tidak akan menimbulkan dampak pada harga. Sayangnya sentimen negatif lebih kuat berhembus. Akibatnya inflasi semakin parah dan mencapai 86% di tahun 1999.

2.      Argentina
Argentina: menghilangkan 13 angka nol melalui 4 kali operasi pada 1970, 1983, 1985, 1992

3.      Zimbabwe
Zimbabwe: menghilangkan 3 angka nol

4.      Korea Utara
Korea Utara pada akhir tahun 2009 melakukan redenominasi 100 won menjadi 1 won. Namun, saat warga hendak menggantikan uang lama won ke uang baru, stok uang baru tidak tersedia. Saat chaos terjadi, muncul pasar gelap yang mengambil kesempatan. Pasar gelap ini menprasaranai masyarakat yang menyelamatkanuangnya ke Yuan dan US$. Hal ini didasari kepanikan publik, khawatir won-nya sama sekali kehilangan nilai.

5.      Brazil
Brazil termasuk negara yang paling sering melakukan redenominasi.  Tercatat negara ini telah melakukan 6 kali operasi redenomisasi, yaitu tahun 1967, 1970, 1986, 1989, 1993 dan 1994.
Walau di tahun 1994 Brazil tercatat sebagai negara yang sukses melaksanakan redenomisasi, namun negeri Samba ini sempat juga merasakan kegagalan melakukan redenominasi yakni pada tahun 1986-1989. Brazil melakukan penyederhanaan mata uangnya dari cruzeiro menjadi cruzado. Namun, kurs mata uangnya justru terdepresiasi secara tajam terhadap USD hingga mencapai ribuan cruzado untuk setiap USD. Kegagalan ini dikarenakan pemerintah Brazil tidak mampu mengelola inflasi yang pada waktu itu masih mencapai 500% per tahun. Rendahnya tingkat kepercayaan terhadap pemerintah juga menjadi pangkal masalah kegagalan redenominasi pada tahun 1986 mengingat negeri itu masih dilanda konflik politik dan instabilitas pemerintahan yang mengikis kepastian berusaha. [1]
Brazil akhirnya berhasil dalam menerapkan redenominasi pada tahun 1994. Kombinasi sukses memangkas inflasi dan masuknya modal asing yang meningkatkan cadangan devisa merupakan faktor terpenting keberhasilan redenominasi di Brazil.

6.      Afghanistan
Kekisruhan redenominasi Korea Utara terjadi juga di Afghanistan. Tahun 2002, pemerintah Afghanistan memberlakukan pemotongan 3 digit nol mata uang Afghani. Sayangnya, masyarakat tidak cukup mempercayai pemerintah yang meminta agar proses konversi berjalan natural. Kelangkaan mata uang baru terjadi setelah masyarakat berbondong-bondong memborong mata uang baru. Akibatnya nilai mata uang lama menjadi merosot tajam. Demikian pula permintaan akan US$ meningkat tajam, akibatnya kurs terhadap US$ merosot tajam pula.[2]

7.      Belanda
Ketika Euro disepakati sebagai mata uang bersama Uni Eropa, otomatis mata uang lama dari negara-negara Eropa pemakai euro, seperti Gulden Belanda, juga mengalami redenominasi. Belanda juga saat terjadi penyesuaian Gulden menjadi Euro cukup mengalami masalah. Pedagang tidak menyikapi perubahan mata uang dengan nilai konversi yang baru, karena konversi Gulden menajdi Euro tidak berupa bilangan bulat kelipatan 10. Sebagai contoh, barangyang semula berharga 5 Gulden, dijual menjadi 5 Euro, padahal Euro berada diatas nilai Gulden, akibatnya inflasi terjadi. Kenaikan harga yang terjadi bukan karena pengaruh supply-demand, tapi sebab keputusan publik menyederhanakan masalah.

Marisa Wajdi!!!

No comments:

Post a Comment

Terimakasih atas komentar Anda.
Salam hangat,
Icha