Translate

Tuesday, March 5, 2013

Prinsip-Prinsip Belajar


Prinsip-Prinsip Belajar


Prinsip belajar adalah konsep-konsep yang harus diterapkan didalam proses belajar mengajar. Seorang pengajar perlu memahami prinsip teori belajar karena (menurut Lindgren dalam Toeti Sukamto (1992: 14 )), teori belajar akan membantu untuk memahami proses belajar yang terjadi di dalam diri siswa, dapat mengerti kondisi-kondisi dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi, memperlancar atau menghambat proses belajar. Teori ini memungkinkan pengajar untuk melakukan prediksi yang cukup akurat tentang hasil yang dapat diharapkan suatu aktifitas belajar.

Banyak teori-teori belajar yang ditemukan dari hasil penelitian dan observasi. Pada dasarnya teori-teori belajar dapat dikelompokan menjadi teori behaviorisme dan kelompok teori kognitivisme (Arif Sukadi,1987).

TEORI BEHAVIOURISME (kebiasaan)
Menurut teori behaviorisme, manusia sangat dipengaruhi oleh kejadian-kejadian di dalam lingkungannya, dimana lingkungan memberi pengalaman-pengalaman belajar.

 Jadi, belajar adalah proses perubahan tingkah laku (respon yang dapat diamati) karena adanya rangsangan  dari lingkungan.

Teori behaviorisme ini sangat menekankan pada apa yang dapat dilihat yaitu tingkah laku, tidak memperhatikan apa yang terjadi didalam pikiran manusia. Untuk mencapai tujuan yang diinginkan teori ini memanipulasi lingkungan agar bisa mempengaruhi tingkah laku manusia (reinforcement).

Tuntutan dari teori ini adalah pentingnya merumuskan tujuan belajar secara jelas dan spesifik supaya mudah dicapai dan diukur.

Prinsip-prinsip teori behaviorisme yang banyak diterapkan didunia pendidikan meliputi (Hartley & Davies, 1978 dalam Toeti S. 1992:23) :
(1)  siswa ikut dengan aktif didalamnya;
(2)  materi pelajaran disusun dalam urutan yang logis supaya siswa dapat dengan mudah mempelajarinya dan dapat memberikan respon tertentu;
(3)  Tiap-tiap respon harus diberi umpan balik secara langsung supaya siswa dapat mengetahui apakah respon yang diberikannya telah benar;
(4)  Setiap kali siswa memberikan respon yang benar maka ia perlu diberi penguatan.

Prinsip-prinsip behaviorisme diatas telah banyak digunakan dan diterapkan dalam berbagai program pendidikan. Misalnya dalam pengajaran berprogram dan prinsip belajar tuntas (mastery learning). Dalam pengajaran berprogram materi pelajaran disajikan dalam bentuk unit-unit terkecil yang mudah dipelajari siswa, bila setiap unit selesai siswa akan mendapatkan umpan balik secara langsung. Dalam mastery learning materi dipecah per unit, dimana siswa tidak dapat pindah ke unit di atasnya bila belum menguasai unit yang dibawahnya.

KELOMPOK TEORI KOGNITIF
Menurut teori kognitif, belajar adalah pengorganisasian aspek-aspek kognitif dan perseptual untuk memperoleh pemahaman. Dalam model ini tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan. perubahan tingkah laku sangat dipengaruhi oleh proses berfikir internal yang terjadi selama proses belajar. Dengan teori ini, maka perubahan dari hasil belajar tidak selalu dapat terlihat dari perubahan tingkah laku. Teori ini menekankan pada gagasan bahwa bagian-bagian suatu situasi saling berhubungan dengan konteks situasi secara keseluruhan.

Beberapa teori dibawah ini adalah teori belajar yang bisa dikategorikan sebagai teori kognitif.

A.   Teori Perkembangan Piaget
Menurut Piaget perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik yaitu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis yaitu perkembangan sistem syaraf. Dengan bertambahnya umur maka susunan syaraf seseorang akan semakin komplek dan ini memungkinkan kemampuannya meningkat (Traves dalam Toeti 1992:28). Oleh karena itu proses belajar seseorang akan mengikuti pola dan tahap perkembangan tertentu sesuai dengan umurnya. Perjenjangan ini bersifat hirarkis yaitu melalui tahap-tahap tertentu sesuai dengan umurnya. Seseorang tidak dapat mempelajari sesuatu diluar kemampuan kognitifnya.

Ada empat tahap perkembangan kognitif anak  menurut teori perkembangan Piaget, yaitu:
1.    Tahap sensorikmotorik yang bersifat internal ( 0-2 tahun)
2.    Tahap preoperasional (2-6 tahun )
3.    Tahap operasional konkrit (6-12 tahun)
4.    Tahap formal yang bersifat internal (12-18 tahun)

B.   Teori Kognitif Bruner
Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh caranya melihat lingkungan. Semakin dewasa sistem simbol ini semakin dominan.

Adapun tahapan perkembangan menurut teori Bruner adalah:
1.    tahap enaktif, dimana siswa melakukan aktifitas-aktifitasnya dalam usahanya memahami lingkungan.
2.    tahap ikonik, dimana ia melihat dunia melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal.
3.    tahap simbolik, dimana ia mempunyai gagasan-gagasan abstrak yang banyak dipengaruhi bahasa dan logika dan komunikasi dilakukan dengan pertolongan sistem simbol.

Menurut Bruner untuk mengajar sesuatu tidak usah ditunggu sampai anak mencapai tahap perkembangan tertentu. Yang penting, selama materi pelajaran tertata dengan baik, maka materi bisa diberikan kepada siswa.
Penerapan teori Bruner yang terkenal dalam dunia pendidikan adalah kurikulum spiral dimana materi pelajaran yang sama dapat diberikan mulai dari Sekolah Dasar sampai Perguruan tinggi disesuaikan dengan tingkat perkembangan kognitif mereka. Cara belajar yang terbaik menurut Bruner ini adalah dengan memahami konsep, arti dan hubungan melalui proses intuitif kemudian dapat dihasilkan suatu kesimpulan (discovery learning).

C.   Teori belajar bermakna menurut Ausubel
Menurut Ausubel belajar haruslah bermakna, dimana materi yang dipelajari diasimilasikan secara non-arbitrari dan berhubungan dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya.

Menurut Reilly & Lewis, (1983) ada dua persyaratan untuk membuat materi pelajaran bermakna yaitu:
(1)  Pilih materi yang secara potensial bermakna lalu diatur sesuai dengan tingkat perkembangan dan pengetahuan masa lalu;
(2)  Diberikan dalam situasi belajar yang bermakna;

Prinsip-prinsip teori belajar bermakna Ausebel ini dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar melalui tahap-tahap sebagai berikut :
(1)  mengukur kesiapan siswa seperti minat, kemampuan dan struktur kognitifnya melalui tes awal, interview, review, pertanyaan-pertanyaan dan lain-lain;
(2)  memilih materi-materi kunci lalu penyajiannya diatur dimulai dengan contoh-contoh kongkrit dan kontroversial;
(3)  mengidentifikasi prinsip-prinsip yang harus dikuasai dari materi baru itu;
(4)  menyajikan suatu pandangan secara menyeluruh tentang apa yang harus dipelajari, memakai advance organizers;
(5)  mengajar mahasiswa memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang ada dengan memberikan fokus pada hubungan-hubungan yang ada.

Menurut Hartley & Davies (1978), Prinsip-prinsip kognitivisme dari beberapa contoh diatas banyak diterapkan dalam dunia pendidikan khususnya dalam melaksanakan kegiatan perancangan pembelajaran. Prinsip-prinsip tersebut adalah:
(1)  Mahasiswa akan lebih mampu mengingat dan memahami sesuatu apabila pelajaran tersebut disusun berdasarkan pola dan logika tertentu;
(2)  Penyusunan materi pelajaran harus dari yang sederhana ke yang rumit. Untuk dapat melakukan tugas dengan baik mahasiswa harus lebih tahu tugas-tugas yang bersifat lebih sederhana;
(3)  Belajar dengan memahami lebih baik dari pada menghafal tanpa pengertian. Sesuatu yang baru harus sesuai dengan apa yang telah diketahui siswa sebelumnya. Tugas guru disini adalah menunjukkan hubungan apa yang telah diketahui sebelumnya;

Adanya perbedaan individu pada siswa harus diperhatikan karena faktor ini sangat mempengaruhi proses belajar siswa. Perbedaan ini meliputi kemampuan intelektual, kepribadian, kebutuhan akan sukses dan lain-lain.

Semoga bermanfaat.
Marisa Wajdi!!!

No comments:

Post a Comment

Terimakasih atas komentar Anda.
Salam hangat,
Icha